Sabtu, 30 Oktober 2010

Kebudayaan suku bangsa bali


Kebudayaan Bali masih banyak mengandung kemurnian sifat hindu jawa. Perbedaan pengaruh dari kebudayaan hindu jawa di berbagai daerah di bali pada zaman majapahit menyebabkan adanya bentuk masyarakat bali, yaitu masyarakat bali Aga dan majapahit.
            Penduduk asli yang tidak senang bercampur dengan orang majapahit yaitu orang bali Aga melarikan diri ke daerah pegunungan.orang terunyan adalah penduduk asli bali tetapi tidak mau disebut baliaga. Mereka lebih seneng menyebut dirinya bali turunan.

Kepercayaan atau realigi
            Pada umunya kepercayaan atau agama orang bali ialah agama hindu. Tetapi perlu diketahui bahwa selain agama hindu ada juga yang memeluk agama islam, walaupun tersebarnya terlambat sekali.dan anehnya orang orang bali tidak dia anggap sebagai warga bali asli. Mereka mendapat sebutan bali selam ( islam ). Mereka tidak boleh mengikuti upacara – upacara yang diselenggarakan oleh orang – orang bali aslinya seolah – olah mreka terasingi oleh masyarakat bali itu sendiri. Ada juga agama kristen yang pengaruhnya sangat lambat . nasi mereka sama seperti nasib agama islam lainnya.

            Kehidupan sehari – hari mereka hanyalah menyembah dewa – dewa yang mnenurut kepercayaan mereka itu 3 dewa besar harus dipuja – puja yaitu : batara brahma, siwa, dan wisnu. Dewa yang paling dianggap tertinggi adalah batara brahma tetapi di dalam sejarah banyak perubahan, banyak yg bilang kalau dewa terbesar itu adalah siwa dan dia sering di  takuti.orang – orang memuja dewa siwa agar dewa ini membuat tentram dan tidak membuat kerusakan.

            Namun demikian, menurut kepercayaan sebagian rakyat di situ, bahwa siwa tidak sebagai pembangun. Karena d i anggap vsebagai dewa perusak, dan di juluki pula dewa pembangun.yang dimaksud perusak maksudnya adalah merusak tapi untuk membangun, bukan merusak tentang kejahatan.

            Untuk menghormati dan menyembah dewa – dewa orang bali membuat kuil atau pura. Jumlah pura ini banyak sekali. Pura yang asli terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1.      Bagian muka berupa ruangan kosong
2.      Bagian tengan tempat untuk menyiapkan sesaji
3.       Bahian belakang adalah bagian yang terpenting, karena tempat ini adalah tempat yang paling suci.

Pura bisa di bedakan menjadi :
1.      Pura bersifat umum bersifat pura bersakih
2.      Untuk kelompok – kelompok sosial
3.      Puar untuk kumpulan khusu seperti subka dan sekah adalah sanggah.
Pura dipelihara oleh pejabat agama yang disebut dengan nama pemangku.

Upacara-upacara penyembahan Dewa dipimpim oleh pendeta yang tugasnya membuat air sucii pada tiap-tiap upacara, dengan cara menggosokan rohnya (Bersemadi) agar dimasukin oleh Dewa Siwa. Upacara keagamaan dipimpin oleh pendeta yang umumnya disebut Sulinggeh. Dalam upacara persembahan pedanda mempunyai tugas membuat air suci agar kerasukan Dewa Siwa untuk memerciki sesajian. Selain itu, pendeta(Sulinggih) juga bertugas memimpin upacara, pembakaran mayat (Ngaben). Tempat yang digunakan untuk membakar jenazah yaitu wadah yang berwujud menara tinggi bersusun, untuk sampai diatas, harus naik tangga yang disebut tragtrag atau tratag.
            Wadah atau Bade mempunyai atap susun yang bertumpang, biasanya ganjil misalnya 3, 5, 7 ,9 dan yang paling tinggi 11 tingkat. Makin tinggi derajat orang yang meninggal, makin tinggi pula tumpangannya.
            Setelah persiapan wadah itu selesai, kemudian diangkut ketempat pembakaran suci dengan diiringin oleh percikan air suci. Setelah sampai ditempat pembakaran, wadah itu ditumpahkan diatas tumpukan kayu dan dimulailah pembakaran. Barang-barang yang ada didalam upacara itu semuanya ikut dibakar.
            Setelah selesai pembakar, abunya dimasukan kedalam Kelapa Gading dan dibuang k e laut dengan maksud agar kembali keasalnya. Orang Bali percaya bahwa badan kasar terdiri dari 4 unsur yaitu tanah, api, akasa(udara) dan air. Olehh sebab itu, ia harus dilebur, dikembalikan kepada asalnya lagi.
                Tujuan Ngaben(Pembakaran Mayat) :
1.      Untuk menghormati arwah keluarganya(unsur Bhakti)
2.      Untuk melestarikan arwah para leluhur(salah satu yadnya) dan,
3.      Untuk menjaga martabat dimasyarakat.
Macam-macam upacara Ngaben
            Upacara Ngaben dilaksanakan dengan beberapa cara, menurut keadaan orang-orang yang dibakar mayatnya, yaitu:
1.      Pembakaran Mayat langsung, yaitu apabila yang meninggal dunia adalah seorang . pendeta. Mayat pendeta harus segera dibakar, tidak boleh ditunda-tunda.
2.      Pembakaran mayat tidak langsung, yaitu mengubur terlebih dahulu, pembakaran mayatnya dapat ditunda beberapa tahun.
3.      Pembakaran Mayat massal, yakni pembakaran mayat bagi orang-orang miskin, yang tidak mampu mennyediakan biaya sendiri. Biaya harus diadakan secara gotong-royong. Sebelum biaya tersedia, maka mayatnya dapat ditanam dalam tanah terlebih dahulu. Nanti bila telah tersedia biaya maka beberapa mayat dibongkar lagi lalu dibakar bersama-sama.
4.      Pembakaran mayat secara simbolis, yaitu apabila orangnya yang meninggal dunia itu tidak ada disitu. Misalnya meninggal ditempat lain, meninggal dilaut, dan di luar Negeri. Pembakaran mayat secara simbolis dengan cara pembakaran pakaian mayat yang ada.


Ini adalah gambar pada saat upacara ngaben
4a. Beberapa kensepsi agama Hindu atau kitab suci Weda:
1.      Atman : Roh Abadi.
2.      Karma Pala :Buah dari sebuah perbuatan
3.      Punar bawa  : Kelahiran kembali dari jiwa reinkarnasi.
4.      Muksa :Kebebasan jiwa dari lingkaran kelahiran kembali.
4b. 5 macam upacara yang disebut panca yad nya:
1.      Upacara manusia Yadnya, melipui siklus hidup dari masa kanak-kanak sampai dewasa.
2.      Pitra Yadnya, merupakan upacara yang ditujukan kepada roh leluhur, dari mulai saat kematian sampai penyucian roh leluhur.
3.      Dewa Yadnya, terutama berkenan dengan upacara pada kuil umum dan keluarga.
4.      Resi Yadnya, yaitu upacara pentasbihan pendeta.
5.      Buta Yadnya, yaitu upacara untuk Kala dan Buta ( Roh penganggu)

2.Sistem Kekerabatan
            Susunan keluarga diBali adalah parental yaitu kekeluargaan yang dihitung dari garis Ayah dan garis Ibu. Adapun mengenai tingkatan sosial dalam masyarakat dapat dibagi dalam beberapa golongan yang dinamakan Kasta. Kasta-kasta di Bali umumnya sesuai dengan kasta-kasta diIndia, ialah :
a.       Kasta Brahmana merupakan kasta yang tertinggi, terdiri dari golongan pendeta. Kebanyakan mereka memakai sebutan atau gelar Ida untuk laki-laki, Idayu untuk perempuan.
b.      Kasta Ksatria yaitu golongan raja-raja dari para bangsawan. Pada umumnya mereka memakai sebutan Gelar Dewa untuk laki-laki, Dewayu untuk perempuan.
c.       Kasta Waisya yaitu golongan kaum petani, pedagang, saudagar kebanyakan mereka memakai sebutan gelar Gusti untuk Laki-laki, Gusti Ayu untuk perempuan.
d.      Kasta Sudra merupakan kasta yang terendah, terdiri  dari orang-orang yang tidak sempurna dan hina dina. Mereka tidak mempunyai gelar,  dan kebanyakan hanya mendapat panggilan Tri Wangsa.

Adat Perkawinan di Bali
1.      Mengadakan kunjungan resmi dari keluarga si laki-laki kepada keluarga si gadis untuk meminang si gadis atau memberitahukan kepada mereka bahwa si gadis telah dibawa lari untuk dikawin.
2.      Apabila sudah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak, baru diadakan upacara perkawinan.
3.      Mengadakan kunjugan lagi secara resmi dari keluarga si pemuda kerumah si gadis untuk minta diri kepada Ruh Nenek Moyangnya.
4.      Adat penyerahan mas kawin, tetapi adat ini sekarang terutama diantara keluarga-keluarga orang-orang terpelajar sudah tidak berlaku lagi.
Perkawinan yang dianggap pantang
1.      Perwakinan bertukar antara saudara perempuan, suami dengan saudara laki-laki istri(makadenganngad).
2.      Perkawinan antara seseorang dengan anaknya, antara seorang dengan saudara sekandung atau tirinya(Agamiagemana).
3.      Perkawinan antar seorang dengan anak dari saudara perempuan maupun laki-lakinya (keponakannya).
4.      Perkawinan wanita yang memiliki kasta lebih tinggi dari kasta pria, jika ini terjadi ia akan dihukum, dikeluarkan dari dadia dan dibuang(maselong). Adat tersebut sudah mulai hilang

Sistem Kesenian
            Kesenian suku bangsa Bali tumbuh dengan subur bersama-sama dengan agama. Setiap ada upacara keagamaan di kuil-kuil selalu disertai dengan tari-tarian dan nyanyi-nyanyian yang biasanya dilakukan oleh kaum wanita.
            Disamping untuk upacara-upacara kesenian, kuil digunakan untuk tempat hiburan dan permainan. Tari-tarian yang disajikan merupakan tari-tarian kebanggaan masyarakat Bali.
Macam-macam Tarian
1.      Tari Jengger, yaitu tarian permainan rakyat yang sangat digemari oleh rakyat yang sangat populer karena dilakukan oleh pemuda pemudi yang berhadapp-hadapan dan berjejer-jejer rapi.
2.      Tari Legong, yaitu tarian yang dilakukan oleh para pemudi untuk hiburan atau tontonan.
3.      Tari Calon Arang, yaitu gabungan antara drama dan tari(sendratari). Yang menjadi pemeran utama adalaha seorang janda wanita yang terkenal sebagai juru tenung, dengan cerita yang diambilkan dari episode Raja Erlangga di Negara Kahauripan dalam abad XI.
Rumah Adat
      Gapura candi Bentar merupakanan pintu masuk istana raja yang merupakan rumah adat di Bali. Balai Bengong adalah tempat istirahat raja beserta keluarga dan Bali Wanikan adalah tempat adu ayam atau pagelaran kesenian. Kori Agung adalah pintu masuk pada waktu upacara besar dan Kori Babetelan merupakan pintu untuk keperluan keluarga.
Kerajinan
      Di Bali banyak terdapat insdustri dan kerajinan rumah tangga usaha perseorangan, atau usaha setengah besar, yang meliputi kerajinan pembuatan benda-benda anyaman, patung, kain tenun, benda-benda emas, perak, besi dan sebagainya. Usaha dalam bidang ini banyak manfaatnya karena memberikan lapangan kerja bagi penduduk sekitarnya. Dewasa ini kerajinan suku Bali terkenal sampai mancanegara, khususnya kerajinan patung.



                                                                                                                         

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar